KPI, KHALAYAK DAN URGENSI (HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI MASSA DAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM BESERTA URGENSINYA)
“Jadi anak KPI, ya harus update!”
Masih melekat dalam benak saya tentang apa yang diucapkan oleh salah satu
dosen di kelas. Memang benar, menjadi seorang mahasiswa KPI (Komunikasi
Penyiaran Islam) harus memiliki pengetahuan luas tentang hal-hal baru yang ada
di sekitarnya. Seperti halnya berita-berita aktual politik, agama, ekonomi,
budaya dan sebagainya. Apalagi di era revolusi industri 4.0. Teknologi seakan
menjadi jantung kehidupan sehari-hari.
Tuntutan itu tak lebih untuk memaksimalkan tingkat kepekaan mahasiswa. Berfikir kritis, mampu menganalisis reaksi khalayak, dan turut andil dalam proses penyiaran, misalnya. Mengapa? Karena jurusan atau program studi Komunikasi Penyiaran Islam sudah setara dengan jurusan Ilmu Komunikasi di universitas umum. Kurikulum jurusan KPI memasukkan kuliah wajib sebagaimana yang telah disepakati dalam ASPIKOM (Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi).
Mata kuliah Komunikasi Massa merupakan salah satu daftar yang wajib di jurusan
atau program studi KPI. Suatu proses penyiaran kepada publik atau khalayak
harus mengetahui teknik dan teori dalam berkomunikasi. Terlebih dalam dunia yang sudah tanpa sekat
ini.
Tanpa Sekat
Dunia tanpa sekat yang dapat menembus jarak ruang dan waktu. Ya, tak ada
jarak yang mampu membatasi meski untuk sekedar berkomunikasi. Apalagi tentang
penyebaran informasi kepada publik dengan berbagai kecanggihan teknologi.
Begitulah kondisi yang kita hadapi sekarang di era revolusi industri 4.0.
Teknologi sudah menjadi jantung dalam kehidupan sehari-hari.
Lihat saja, mungkinkah orang akan melepaskan ponselnya selama satu hari?
Tidak mungkin. Karena ponsel sudah menjadi kebutuhan pokok seseorang. Di dalam
ponsel terdapat berbagai akses internet yang memudahkan untuk berinteraksi
dalam jarak antar pulau sekalipun. Baik itu interpersonal maupun intrapersonal,
dipermudah dengan akses sosial media, seperti facebook, instagram, twitter, dan
lain sebagainya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa media komunikasi massa
sekarang sudah berkembang pesat. Melebihi media yang terdahulu, seperti kantor
pos, majalah, koran, radio, televisi. Sekarang pun, media tersebut telah
dikemas dalam bentuk digital elektronik, seperti e-mail, e-magazine, dan
masih banyak lainnya.
KPI dan Komunikasi Massa
Memasuki dunia tak bersekat, seberapa eratkah hubungan antara KPI dan
Komunikasi Massa? Terlepas dari sebatas jurusan dan sebuah mata kuliah, keduanya
seakan tak bisa dipisahkan. KPI menawarkan mahasiswanya untuk bisa menyiarkan
dakwah Islam kepada mad’u (khalayak) atau massa dengan berbagai media.
Dakwah pun tidak dimaknai secara sempit saja (ceramah), namun bisa dengan
menggunakan media cetak ataupun elektronik bahkan internet. Dalam hal ini
dimaksudkan dengan adanya berbagai media komunikasi massa, Islamic broadcast(penyiaran
Islam) mampu menguasai sebagian khalayak. Salah satu kunci kesuksesan dakwah
adalah mengetahui kondisi khalayak (mad’u). Hal tersebut dipelajari dalam strategi
Komunikasi Massa.
Pada umumnya mahasiswa Ilmu Komunikasi digaris besarkan mampu pada dua
hal, broadcasting dan journalistic dalam pengembangan media komunikasi massa. Begitupula
dengan mahasiswa KPI, mampu menjadi bagian pers mahasiswa atau jurnalis. Menyuguhkan
berbagai peristiwa dan berita menarik kepada khalayak atau massa dengan berbekal
kode etik jurnalistik.
Secara tidak sadar, proses jurnalistik bisa dikatakan sebagai komunikasi
massa. Maksudnya dari produk jurnalistik itu berupa koran, majalah, buletin
bisa dikonsumsi oleh khalayak masyarakat. Masyarakat diajak berkomunikasi
melalui produk jurnalistik tersebut. Makanya, mahasiswa KPI dituntut update dengan
berita terakual di sekitarnya. Terlebih lagi maraknya citizen journalistic muncul
di era sekarang.
Bagaimana dengan broadcasting? Sebenarnya jurnalistik merupakan
bagian dari broadcast hanya saja lebih dominan cetak. Keduanya beda
tipis, jurnalistik televisi dan radio misalnya. Atau menyiarkan melalui perfilm
dan sebagainya. Bahkan, mahasiswa KPI IAIN Kudus mampu memenangkan festival
film medapat juara 1 dalam rangka communication festival (Comfest)
Jateng-DIY 2018 dengan tema Budaya. Hal tersebut menjadi langkah awal bagi KPI
IAIN Kudus dan sebagai perbaikan tontonan massa dengan memuat hal-hal positif.
Agar mahasiswa KPI mampu menguasai media massa baik cetak, elektronik
maupun online, bisa mengadakan berbagai kunjungan di berbagai media massa. Kunjungan
tersebut pernah dilaksanakan oleh beberapa kelas KPI angkatan 2016 dan 2017
beberapa minggu lalu. Ada yang ditempatkan di perusahaan persurat kabaran Radar
Kudus, ada yang di Suaramuria.news dan Radio Manggala Kudus.
Hubungan antara KPI dengan Komunikasi Massa sangatlah erat. Mengingat
mahasiswa KPI menjadi elemen utama di tengah-tengah massa. Mempelajari
efek-efek komunikasi yang ditimbulkan, sangatlah penting. Bukankah kesusksesan
berkomunikasi massa diukur dengan feedback masyarakat? Mengetahui
strategi-strategi periklanan, ekonomi, politik pun diperlukan adanya komunikasi
massa yang efektif.
Urgensi KPI
Revolusi 4.0 mendatangkan banyak sekali peluang begitu juga tantangan.
Tidak terkecuali dalam program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam. KPI
dihadapkan oleh berbagai tantangan yang harus ditaklukkan. Maraknya kasus hoaks
yang tersebar, baik melalui persuratkabaran maupun online. Juga kegiatan cyber
crime, mahasiswa KPI dituntut untuk menepis hal-hal tersebut.
Mengingat Komunikasi Penyiaran Islam merupakan jurusan yang setara dengan Ilmu Komunikasi. Bedanya KPI mempunyai nilai plus, yakni penguasaan nilai-nilai Islami. Mahasiswa diberi bekal perspektif keagamaan yang akan sangat bermanfaat kelak maupun untuk studi dan karirnya ke depan. Mahasiswa KPI sangat penting bisa memahami berbagai objek studinya di Indonesia, yang mayoritas berpenduduk Muslim. Jadi bukan hanya mengembangkan teknologi informasi dengan ilmu komunikasi, namun beroientasi pula pada pengembangan penyiaran Islam.
Masih banyak yang harus dibenahi dalam penyiaran Islam, khususnya di
televisi. Program Islami hanya muncul pada saat-saat tertentu, misalnya hanya
saat bulan Ramadhan. Memang sebuah rata-rata stasiun televisi menuruti pasar,
seperti hukum suplay dan demand. Semakin banyak penawaran maka
semakin banyak pula permintaan.
Terlepas dari itu semua, sebenarnya dulu pernah ada program-program Islam
yang ditayangkan selain pada saat-saat tertentu. Islam itu Indah, Beriman, Berita
Islami Masa Kini, Film Omar, Halal Traveler, Mamah dan A’a Beraksi, Damai
Indonesiaku, dan sebagainya. Namun
ternyata seiring perkembangan dunia pertelevisian, perlahan semakin berkurang
pula program-program penyiaran Islam. Sekarang program penyiaran Islam lebih
sering dijumpai berupa program film atau sinetron, pintu berkah, kisah nyata,azab, dan lain
sebagainya. Ini menjadi tugas sekaligus urgensi KPI dengan menjaga marwah
Islami di dunia pertelevisian.
Perkembangan teknologi juga tak mengelakkan masyarakat menjadi makhluk
yang lebih homogen dari sebelumnya. Perilaku-perilaku yang perlahan
meninggalkan norma-norma agama, dan lunturnya budaya Islami. Di sinilah
pentingnya KPI dalam memasuki ranah massa. Mahasiswa KPI menjadi elemen penting
untuk sebuah agent of change dari sebuah masyarakat.
*Pengurus
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paradigma IAIN Kudus
Comments
Post a Comment