Skip to main content

Peluang dan Tantangan Dakwah di Era Globalisasi dan Informasi


Dunia semakin tanpa sekat. Informasi dengan mudahnya tersebar melalui berbagai media. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan transformasi informasi yang sangat pesat memasuki era globalisasi dan informasi. Kemajuan tersebut bagaikan pedang bermata dua, terutama dalam hal berdakwah yakni menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran untuk menuju agama yang rahmatan lil alamin.
Arus globalisasi memang tidak bisa ditahan, seperti yang kita lihat kehadiran teknologi yang telah bersahabat di Indonesia, seperti berbagai macam stasiun televisi dan media sosial. Televisi telah menguasai sebagian kehidupan masyarakat Indonesia. Peradaban informasi yang mendominasi dunia modern dalam beberapa dekade terakhir, nampaknya membawa dampak global dari berbagai sektor kehidupan manusia. Hampir semua dapat dihubungkan baik langsung maupun tidak dengan agama, terutama peluang sekaligus tantangan dakwah.
Hadirnya kecanggihan teknologi, dakwah menjadi lebih mudah, tak terbatas ruang dan waktu. Peluang bermunculan membantu proses dakwah. Peradaban informasi membawa segi positif dakwah antara lain dapat dijadikan sebagai media dakwah. Kegiatan berdakwah tidak hanya dakwah berupa ceramah di masjid-masjid,  namun dapat  disalurkan melalui media sosial, seperti instagram, facebook,twitter, dan lain sebagainya. Dengan begitu prosesnya akan lebih cepat dan efisien. Selain itu, dakwah menggunakan media sosial nampaknya lebih digemari oleh kawula muda.
Peradaban informasi juga menjadikan agama semakin transparan, baik dari segi doktrin dan ajaran-ajaran maupun dari segi kegiatan dan program-program yang dilahirkan oleh setiap agama, bukan saja Islam. Dengan demikian, transparannya agama-agama tersebut maka terjadi konversi agama (pindah agama) di kalangan masyarakat merupakan hal yang sangat niscaya, terutama masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan dan rasionalitas. Nah, disinilah peluang dakwah Islam untuk tampil memainkan berbagai peranannya dalam penggunaan teknologi informasi sebagai media dakwah yang efektif agar tidak kalah bersaing dan terjadi kemurtadan hanya karena iming-iming dunia.
Apakah dakwah dengan jaringan internet akan sangat efektif dan potensial? Ya, dengan berbagai alasan, diantaranya, pertama mampu menembus batas ruang dan waktu dalam sekejap dengan biaya dan energi yang relatif terjangkau. Kedua, pengguna jasa internet setiap tahunnya meningkat drastis, ini menjadi peluang pada banyaknya jumlah penyerap misi dakwah. Ketiga, para pakar dan ulama yang berada dibalik media dakwah via internet bisa lebih konsentrasi dalam menyikapi setiap wacana dan peristiwa yang menuntut status hukum syar’i.
Dalam berbagai peluang, ternyata Ziauddin Sardar  mengemukakan abad informasi temyata telah menghasilkan sejumlah besar problem. Menurutnya, bagi dunia muslim, evolusi informasi menghadirkan tantangan-tantangan khusus yang harus diatasi demi kelangsungan hidup fisik maupun budaya  umat. Tantangannya seperti maraknya pemberitaan palsu (hoax) di internet, maraknya program siaran televisi yang menurunkan nilai-nilai Islam, dan lain sebagainya. Maka dari itu, kita harus bisa  memahami manfaat dan mudarat teknologi informasi serta secara sadar   memanfaatkannya untuk mencapai tujuan dakwah.
Secara ringkas, tantangan dakwah dibagi menjadi dua, yakni internal dan eksternal. Secara internal memperbaiki keadaan umat Islam agar dapat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi dan industri, sedangkan eksternal dakwah menghadapi tantangan yang akan menghancurkan umat Islam melalui media komunikasi yang semakin marak bermunculan.
Abdullah Fajar menyatakan tantangan terbesar yang diam-diam muncul dalam masa globalisasi informasi, bukan tantangan kebodohan, akan tetapi tantangan pengetahuan. Menurutnya, pengetahuan sebagai yang dirancang dan disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia oleh peradaban Barat itu   adalah pengetahuan yang menginginkan kenyataan, kepastian, tetapi yang ia  hasilkan ialah kerancuan dan keraguan (dalam arti sebagai metodologi ilmiah maupun sebagai epistemologi yang sah). Upaya untuk memberikan muatan agama melalui dakwah terhadap sistem dan teknologi itu, dengan sendirinya memerlukan manusia dengan kekuatan penalaran dan iman dalam jumlah yang besar. Namun harus diakui bahwa disinilah letaknya kelemahan pokok umat Islam (Indonesia), yaitu rendahnya penguasaan terhadap ilmu dan teknologi.
Menurut Majid (2000), ada beberapa cara untuk menyaring trend global yang negatif, seiring dengan perkembangan masyarakat dunia serta masalah makin kompleks dan rumit saat ini adalah sebagai berikut:
a.       Strategi dakwah yang tepat diperlukan untuk membentuk pertahanan diri dan keluarga melalui pengefektifan fungsi nilai-nilai-agama, karena dengan dasar agama yang kuat dapat dijadikan filter pertama dan utama untuk menghadapi berbagai masalah;
b.      Mempertahankan nilai-nilai budaya luhur yang dapat melestarikan tradisi positif yang pada dasarnya tidak  bertentangan dengan paham dan ajaran agama (Islam) yang menanamkan nilai-nilai baik dan suci;
c.       Perlu dukungan dan keikutsertaan semua lapisan masyarakat untuk menciptakan dan memiliki komitmen yang sama dalam melihat seberapa bergunanya  nilai-nilai baru itu untuk sebuah komunitas dan kemajuan masyarakat;
d.      Kesiapan dan kematangan intelektual serta emosional setiap penerima message baru, apakah hal tersebut memang akan mendatangkan manfaat plus buat diri dan lingkungannya atau tidak.
Era globalisasi dan informasi menyuguhkan peluang sekaligus tantangan yang telah terangkum di atas. Semoga kita sebagai generasi muda mampu memanfaatkan berbagai peluang dan menghadapi berbagai tantangan dalam kegiatan berdakwah.

Referensi
Abdullah Fajar, Peradaban dan Pendidikan Islam (Cet. I; Jakarta:  CV. Rajawali, 1991), h. 30
Efa Rubawati, Media Baru: Tantangan dan Peluang Dakwah , Jurnal Studi Komunikasi, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Sorong , Vol. 02, No. 1 Maret 2018
Majid, Tantangan dan Harapan Umat Islam Di Era Globalisasi (Cet. I; Bandung: CV. Pustaka Setia, 2000), h. 79
Muhammad Rajab, Dakwah Dan Tantangannya Dalam Media Teknologi Komunikasi, Jurnal Dakwah Tabligh, Vol. 15, No. 1, Juni 2014.



*Shoma Noor Firda Inayah, Tugas Tambahan pengganti presentasi Mata Kuliah Publik Relations (KPI IAIN Kudus)

Comments

Popular posts from this blog

Usai Deklarasi Dukung Jokowi, Fahrul Semangati Anak Muda Sumsel

 Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fx ismanto Usai melakukan Deklarasi dan Diskusi, Rumah Bersama Relawan Pemenangan Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin mengucapkan terimakasih kepada seluruh peserta yang hadir. Khususnya anak-anak muda. Hal ini disampaikan oleh Koordinator Relawan Sumsel Jokowi-KH Ma'ruf Amin yang juga Presiden KOMPASS, Fachruzar SH. "Mengucapkan apresiasi setinggi-tingginya. Dan ucapan terimakasih kepada relawan-relawan yang sudah mensukseskan kegiatan ini, khususnya anak-anak muda Sumsel," kata Fachruzar dalam keterangan tertulisnya yang diterima Tribunnews.com, Kamis (20/9/2018). Kang Fahrul biasa disapa mengatakan, deklarasi ini mempunyai arti penting untuk kalangan millenial. Bukan hanya Palembang atau Sumatera Selatan, tapi juga di seluruh wilayah Sumatra. "Pesan kampanye yang hendak kita sampaikan ialah pesan harapan, seperti misalnya harapan ekonomi untuk milenial tumbuh," ujarnya. sumber : Tribunnews.com Sementara, Direktur Pengg...

KPI IAIN Kudus Kunjungi Radio Manggala

Pada Jum'at (30/11/2018), kami mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN Kudus mengunjungi PT. Radio Swara Manggala Sakti  untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Media Komunikasi dan Jurnalistik semester lima. Tugas ini diberikan oleh Primi Rohimi, selaku dosen Mata Kuliah Media Komunikasi dan Jurnalistik di kelas KPI A 5. Lokasi kunjungan berada di Gdg. Srikandi Ngembal Rejo Jl. Raya Kudus-Pati Km. 05. Tidak jauh dari lokasi kampus kami. Pukul 08.30 WIB kami sampai di lokasi. Kami disambut ramah oleh manajer PT. Radio Swara Manggala Sakti yang bernama Aldi Alfiyan. Kami akrab dengan panggilan Pak Al. Beliau menjelaskan beberapa hal penting mengenai sejarah Radio, manajemen pers dan media komunikasi,   berkeluh sekaligus memotivasi untuk menghadapi tantangan globalisasi bagi media radio, bahkan membagi tips menjadi penyiar yang kece. “Dengan berbagai tantangan, kami masih bertahan dengan menyiarkan secara online. Dan radio kami sudah bisa didengarkan lewat strea...