Skip to main content

Masjid Wali Loram Kudus


Semenjak Islam masuk di Jawa, Islam bertemu dengan nilai-nilai Hindu Budha yang sudah mengakar kuat di kalangan masyarakat. Tentu saja nilai-nilai dari Hindu Budha pun sebelumnya telah mengakomodasi nilai religi animisme dan dinamisme sebagai nilai yang telah mengalami percampuran, yang kemudian disebut sebagai nilai-nilai kebudayaan Jawa. Ketika Islam datang dan berinteraksi dengan nilai-nilai lama tersebut, masyarakat sering menyebutnya sebagai nilai-nilai kebudayaan Jawa.

Nilai-nilai kebudayaan yang berkembang juga menyangkut bidang arsitektur. Ketika Islam masuk di Jawa arsitektur Jawa pun tidak dapat dinafikan oleh Islam. Jadi, agar Islam dapat diterima sebagai agama orang Jawa, maka simbol-simbol Islam hadir dalam bingkai budaya dan konsep Jawa, sebagai hasil berasimilasinya dua kebudayaan dan sekaligus sebagai pengakuan akan keberadaan keunggulan Muslim Jawa dalam karya arsitektur. Maka arsitektur juga menunjukkan keberadaan perkembangan budaya suatu daerah. Berbicara mengenai arsitektur Jawa-Islam di Kudus, ada masjid yang mempunyai arsitektur serta nilai-nilai budaya Jawa yang masih di lestarikan. Masjid tersebut berada di Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus, tampak khas karena memiliki gerbang berarsitektur Hindu-Buddha. Nama masjid tersebut adalah Masjid At-Taqwa, namun masyarakat Kudus sering menyebutnya Masjid Wali Loram. Transformasi nilai-nilai tradisional dalam dinamika pengetahuan mengenai arsitektur berwawasan tradisi dan budaya di Masjid Wali Loram Kudus tersebut mengental dalam kehidupan masyarakat Kudus hingga sekarang.

Sebelum ke ranah lebih dalam, kita meminjam istilah Dadang Kahmad dalam buku Sosiologi Agama (Bandung: Penerbit PT Remaja Rosda Karya, 2002, cet 2, h.74) bahwa bila ditinjau dalam perpektif sosio-antropologis, ketika ada suatu agama masuk pada masyarakat lain di luar masyarakat pembentuknya, agama itu akan mengalami proses penyesuaian dengan kebudayaan yang telah ada. Ada kompromi nilai atau simbol dengan kebudayaan asal, sehingga menghasilkan bentuk baru yang berbeda dengan agam atau budaya asal. Proses akulturasi yang berangsur-angsur sedemikian rupa membentuk sebuah budaya yang berbeda dari budaya asal.


Sejarah, Arsitektur dan Panorama

Masjid ini didirikan seorang Muslim keturunan Tiongkok bernama Tji Wie Gwan, yang tak lain ayah angkat Sultan Hadirin. Dia diperintahkan langsung oleh Sunan Kudus untuk membangun masjid itu, untuk menyebarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar. Dari depan, tampak gerbang Masjid Wali Loram tersusun dari ratusan batu bata merah setinggi lebih kurang empat meter. Terdapat dua pintu di sebelah utara dan selatan, serta satu pintu utama di tengah. Gerbang itu sangat mirip dengan gerbang Masjid Menara Kudus.

Sejarah berdirinya masjid ini diuraikan mendetail dalam website seputarkudus.com yang mengambil narasumber seorang Takmir Masjid Wali Loram bernama Afrohamanudin (48). Awal cerita pembangunan dijelaskan bahwa gerbang Masjid At-Taqwa dibuat oleh ayah angkat Sultan Hadirin bernama Tji Wie Gwan keturunan Tiongkok. Pembangunan dilakukan sekitar tahun 1596-1597 masehi. Pembangunan gerbang tersebut merupakan perintah langsung dari Sunan Kudus. Bangunan yang dibuat Tji Wie Gwan membuat masyarakat Loram yang saat itu masih menganut Hindu-Buddha, tertarik untuk datang melihat.

Tidak hanya gerbang, Tji Wie Gwan juga membuat bangunan masjid yang kini dikenal masyarakat dengan nama Masjid Wali Loram. Karena saat Pemerintahan Orde Baru mengharuskan ada penamaan masjid, akhirnya Masjid Wali Loram di beri nama Masjid Jami At-Taqwa. Afrohamanudin juga menuturkan, pada masa itu, masyarakat Loram mayoritas menganut Hindu-Buddha. Karena Tji Wie Gwan membuat gapura yang menyerupai tempat ibadah agama yang dianut masyarakat sekitar, hal itu membuat banyak warga yang penasaran dan datang untuk melihat. Tji Wie Gwan juga mengajarkan budaya dan Islam kepada warga Loram yang masuk ke masjid. Akhirnya, banyak masyarakat Loram yang masuk Islam.

Konon, Tjie Wie Gwan menjadi orang kepercayaan Sultan Hadlirin, suami Ratu Kalinyamat, dan dipercaya untuk menyebarkan agama Islam di Kudus. Sebagai penghargaan bagi jasa-jasanya yang besar, Ratu Kalinyamat memberi gelar Sungging Badar Duwung kepada Wie Gwan. Sungging artinya ahli ukir, badar artinya batu, dan duwung yang berarti tanah. Konon beliau inilah yang menjadi cikal bakal munculnya keterampilan seni ukir di Kudus.

Dari penjabaran tersebut, ada dua hal menarik dengan masjid ini, yaitu bangunan aslinya didirikan pada 1596-1597 oleh seorang Tionghoa Muslim asal Campa bernama Tjie Wie Gwan dan yang kedua adalah adanya kori agung gapura paduraksa bergaya Majapahitan di bagian depannya. Meski di jaman Orde Baru nama masjid diganti menjadi Masjid Jami At-Taqwa, dengan alasan harus diberi nama khusus untuk memenuhi kebutuhan administrasi, namun masyarakat setempat masih menyebutnya Masjid Wali Loram Kulon. Memberi nama lokal sebuah masjid terasa lebih pas, merdu dan membumi ketimbang memakai nama asing. Mungkin asing yang diindonesiakan akan menjadi lebih baik.

Seperti masjid jaman dahulu, bangunan ini terbuat dari kayu jati dan sudah ada menara, sumur tempat wudlu, serta bedug. Sementara itu jika dilihat dari samping masjid ada taman memanjang yang menjadi pembagi jalan dan ditanami palm serta tanaman hias yang menyegarkan mata. Masjid ini tetap mempertahankan warisan arsitektur Jawa Hindu dan mengkombinasikannya dengan gaya bangunan model Timur Tengah itu adalah masjid ketiga yang saya lihat di Kota Kudus setelah Masjid Menara dan Masjid Nganguk Wali. Aksara Arab pada gapura paduraksa berbunyi "Allahumma baariklana bil khoir", dan di bawahnya ada aksara Latin "Ya Allah, berkahilah kebaikan kepada kami".

Beralih di sebelah depan pintu gapura paduraksa tambahan yang berada di sisi kiri diletakkan dua batu di atas tatanan bata. Sebelah atasnya seperti Lingga Yoni namun dengan bentuk tak lazim, hanya saja cerat untuk mengalirkan air sangat jelas terlihat. Sedangkan batu yang berada di bawahnya memiliki lekukan setengah bola yang tampaknya digunakan sebagai penampung air suci. Dahulu, di masa tanam orang melakukan ritual dengan merapal doa dan menyiramkan air suci atau susu pada lingga, mengalir melalui cerat ke batu penampungan untuk kemudian airnya dicipratkan ke sawah dan ladang agar subur dan memberi hasil melimpah. Tradisi yang Dilestari


Ada sebuah tradisi di Desa Loram Kulon yang unik, yaitu bersedekah dengan mengirim nasi kepel ke Masjid Wali Loram Kulon. Warga yang punya hajatan menikahkan anak, sunat, membangun rumah, melahirkan dan hajatan lainnya membawa sedekah nasi kepel dan lauk bothok masing-masing 7 bungkus. Nasi kepel adalah nasi yang dibungkus dengan daun jati atau daun pisang, berbentuk bulat dan diikat. Angka tujuh (Jawa: pitu) menjadi perlambang bagi Pitulung (pertolongan), Pitutur (nasihat), Pituduh (petunjuk) dalam menjalani hidup. Tradisi tersebut sampai sekarang masih dilestarikan oleh warga setempat. Hal tersebut menunjukkan bahwa tradisi Islam Jawa tidak akan pudar meski dengan berbagai akulturasi budaya di dalamnya.

Keunikan tradisi di Desa Loram Kulon lainnya adalah adanya ritual Nganten Mubeng, yaitu para pengantin wajib melewati gapura paduraksa di sisi barat dan timur Masjid Loram Kulon setelah mereka selesai melaksanakan ijab qobul. Ketika masih hidup, karena banyaknya pasangan pengantin, maka Tjie Wie Gwan meminta agar para pengantin yang telah sah untuk mengelilingi gapura dan didoakan dari depan masjid dengan disaksikan warga. Tradisi tersebut masih dilakukan oleh warga sekitar di desa Loram Kulon. Kini, tradisi tersebut telah menjadi aset wisata daerah di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah dan tetap dilestarikan secara turun temurun oleh warga setempat dan warga lain di wilayah sekitar.

Tradisi Nganten Mubeng ini sudah dilakukan sejak lama, tepatnya sejak agama Islam masuk ke Kudus sampai sekarang. Tak heran jika setiap warga desa setempat, baik yang berdomisili di tempat itu maupun yang berada di luar desa, saat akan menjadi pengantin, mereka biasanya akan melakukan ritual mubeng (memutari) gapura Masjid Wali diiringi oleh kerabat dan keluarga. Hal ini dipercaya sebagai prosesi dengan tujuan memperoleh berkah.

Mengutip dari islamindonesia.id, tradisi ini memiliki makna filosofi tersendiri. Di antaranya untuk mendorong masyarakat agar membentuk keterikatan dengan masjid sebagai tempat beribadah serta untuk memperoleh berkah dan keselamatan melalui pelaksanaan dan pelestarian tradisi leluhur.

Dalam berita yang termuat dalam isknews.com atau Informasi Sekitar Kudus (ISK) News edisi 16 Juli 2016, juga disebutkan bahwa meskipun tradisi nganten mubeng sudah menjadi aset wisata daerah, tradisi ini juga harus tetap dilestarikan sampai kapanpun agar tradisi itu dapat selalu menjadi aset wisata sehingga dapat mensejahterakan masyarakat setempat.

Salah seorangnya pengurus Masjid Wali At taqwa Loram wetan, saat di temui isknews.com di sela-sela menemui Pasangan pengantin pada hari Sabtu, (16/7/16) mengatakan bahwa tata cara penganten mubeng adalah sebagai berikut, Saat rombongan penganten datang di depan gapura turun dari kendaraan kalau dulu dari tradisi naik andong, namun saat ini menggunakan mobil, Pasanga Pengantin Jalan ke barat menuju pintu gapura yang selatan di depan pintu yang sebelah selatan diarahkan untuk memasukkan uang ke dalam kas. Saat memasukkan uang ke dalam kas adalah diantara penganten laki-laki atau perenpuan supaya sama-sama punya niat untuk amal jariyyah. Setelah memasukkan uang kemudian masuk ke masjid mengisi buku tamu untuk laporan pengunjung ke dinas kementrian pendidikan, kebudayaan dan pariwisata. Keudian biasanya foto di belakang pintu gapura kemudian keluar pintu gapura utara menuju ke depan pintu gapura. Untuk pasangan pengantin dan keluarga untuk sejenak menghadap ke pintu gapura. Lalu diberi nasihat; niat nikah adalah untuk ibadah supaya menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah; Mubengi atau memutari gapuranya cukup satu kali saja, namun kalau ingin 7 kali silahkan dan; membaca doa bersama. Pengantin setelah selesai mubeng/kirab gapura, pengantin diberi minum air putih yang sudah di doakan. Dan yang memberi minum harus keluarganya yang masih punya suami atau istri tidak boleh yang sudah duda atau janda. Karena khawatir nanti akan menular pada pengantinnya.

Dari salah satu tradisi dalam Islam Jawa tersebut terdapat nilai-nilai pendidikan Islam yang dapat diambil, yaitu supaya tidak ada fitnah. Pengantin yang melaksanakan adat mubeng/kirab gapura banyak warga sekitar yang melihat, jadi masyarakat tahu bahwa pasangan pengantin itu sudah sah menjadi suami istri; banyak doa dari masyarakat sekitar. Banyak warga sekitar yang mendoakan pasangan pengantin agar menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah; niat atau mengajarkan amal jariyah saat memasukkan uang ke dalam kas masjid.

Adanya tradisi nganten mubeng memiliki makna filosofi tersendiri, diantaranya pertama, mendorong masyarakat untuk membentuk keterikatan dengan masjid sebagai tempat beribadah. Kedua, untuk mengingatkan kedua mempelai akan pentingnya masjid sebagai tempat beribadah umat Islam. Ketiga, untuk memperkenalkan keluarga baru bahwa tempat ibadah umat Islam adalah masjid. Keempat, untuk mendapatkan restu serta doa dari masyarakat agar rumah tangga mempelai dapat langgeng bisa sakinah, mawaddah dan warohmah. Kelima, untuk memperoleh berkah dan keselamatan melalui pelaksanaan tradisi. Masyarakat berusaha menghindar dari kesialan dengan cara menjalani tradisi nganten mubeng.


Sebagai Muslim Jawa



Berpangkal pada pengertian tradisi secara harfiah adalah norma, kebiasaan atau keyakinan atau penyampaian fakta dari generasi ke generasi yang diwariskan. Hal ini diuraikan dalam Jurnal Indah Widiastuti (2014) yang berjudul Transformasi Makna pada Arsitektur Asli Daerah dalam Tampilan Visual Arsitektur. Sifat dipelajari dan diwariskan ini menjadi karakter khas dari konsep tradisi, seperti halnya tradisi Nganten Mubeng di Loram Kulon. Tak hanya masa lalu, konsistensi dan keherensi sebuah tradisi yang teruji terhadap waktu bisa juga terkandung pada arsitektur kontemporer misalnya berupa metode dan praktek profesional, wujud kreasi dan cara membangunnya yang juga dilakukan dan diwariskan lewat sebuah kurun waktu yang cukup panjang.

Sebagai umat Islam yang tinggal di Jawa, perlu mengingat dan melestarikan tradisi-tradisi dan mengamalkan nilai-nilai arsitektur. Seperti apa yang dikatakan oleh Said Aqil pada saat memberikan tausiyah kebangsaan memperingati hari Lahir ke-95 NU di Tugu Proklamasi , Jakarta. “Kita punya budaya yang mulia, itu maksud Islam Nusantara Indonesia akan menjadi kiblat peradaban umat Islam yangmaju karena kita berhasil mengelola keberagamaan dengan baik. Ini merupakan budaya infrastuktur agama sepanjang tak bertentangan dengan ajaran Islam,” nasihatnya yang termuat pada koran Kompas edisi Minggu, 5 April 2018.

Berbagai sejarah, tradisi dan nilai-nilai arsitektur dari Masjid Wali Loram Kulon Kudus menjadi pengingat untuk senantiasa merawat budaya dan melestarikannya. Mengingat perkataan Bung Karno, "Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, Kalau jadi Islam jangan jadi orang Arab, kalau jadi Kristen jangan jadi orang Yahudi...Tetaplah jadi orang Nusantara dengan adat-budaya Nusantara yang kaya raya ini".



Keterangan: Tugas Esai bertema Islam Jawa Dipandang dari Berbagai Aspek. Fokus tulisan ini adalah Islam Jawa di Kudus tepatnya di Loram Kulon yang mengerucutkan permasalahan pada aspek arsitektur dan tradisi di Masjid At-Taqwa (Masjid Wali Loram). dalam rangka mengerjakan tugas UAS. https://www.aroengbinang.com/2018/02/masjid-wali-loram-kulon-kudus.html http://seputarkudus.com/2016/06/masjid-wali-loram-ternyata-dibangun-orang-tiongkok.html http://isknews.com/masyarakat-loram-tetap-lestarikan-tradisi-nganten-mubeng-gapura-masjid-wali/ https://islamindonesia.id/budaya/tradisi-nganten-mubeng-di-masjid-wali-kudus.htm

Comments

Popular posts from this blog

Peluang dan Tantangan Dakwah di Era Globalisasi dan Informasi

Dunia semakin tanpa sekat. Informasi dengan mudahnya tersebar melalui berbagai media. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan transformasi informasi yang sangat pesat memasuki era globalisasi dan informasi. Kemajuan tersebut bagaikan pedang bermata dua, terutama dalam hal berdakwah yakni menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran untuk menuju agama yang rahmatan lil alamin. Arus globalisasi memang tidak bisa ditahan, seperti yang kita lihat kehadiran teknologi yang telah bersahabat di Indonesia, seperti berbagai macam stasiun televisi dan media sosial. Televisi telah menguasai sebagian kehidupan masyarakat Indonesia. Peradaban informasi yang mendominasi dunia modern dalam beberapa dekade terakhir, nampaknya membawa dampak global dari berbagai sektor kehidupan manusia. Hampir semua dapat dihubungkan baik langsung maupun tidak dengan agama, terutama peluang sekaligus tantangan dakwah. Hadirnya kecanggihan teknologi, dakwah menjadi lebih mudah, tak terbatas ruang dan...

Pengertian, Ciri-Ciri, Jenis, Struktur Anatomi, dan Sistem Penulisan Feature

Catatan perkuliahan Teknik Menulis Feature dan Berita pada pertemuan kedua (27/2/19), Dosen pengampu: Primi Rohimi, S. Sos, MSI. Pengertian Feature Apa sih tulisan Feature ? Menurut Asep Syamsul M. R, Feature adalah karangan khas yang menuturkan fakta, peristiwa atau proses disertai penjelasan riwayat terjadinya. Dari pengertian Asep,kita dapat memahami bahwa feature merupakan tulisan yang unik namun tetap berdasarkan fakta atau kenyataan dari peristiwa maupun proses dan menjelaskan kronologi suatu kejadian tersebut. Berarti sama dengan berita, dong ?  Sejatinya, memang tulisan Feature  masuk dalam jenis – jenis berita yaitu jenis berita ringan atau soft news. Namun ada cirri-ciri yang membedakan dalam penulisannya. Sebelum itu, mari kita simak lagi pengertian Feature dari Jim Atkins Jr., yaitu liputan mengenai kejadian yang dapat menyentuh perasaan ataupun menambah pengetahuan audiens melalui penjelasan rinci dan mendalam, tidak terkait aktualitas . Nah kan, jadi Feature ...

KPI, KHALAYAK DAN URGENSI (HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI MASSA DAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM BESERTA URGENSINYA)

“Jadi anak KPI, ya harus update!” Masih melekat dalam benak saya tentang apa yang diucapkan oleh salah satu dosen di kelas. Memang benar, menjadi seorang mahasiswa KPI (Komunikasi Penyiaran Islam) harus memiliki pengetahuan luas tentang hal-hal baru yang ada di sekitarnya. Seperti halnya berita-berita aktual politik, agama, ekonomi, budaya dan sebagainya. Apalagi di era revolusi industri 4.0. Teknologi seakan menjadi jantung kehidupan sehari-hari. Tuntutan itu tak lebih untuk memaksimalkan tingkat kepekaan mahasiswa. Berfikir kritis, mampu menganalisis reaksi khalayak, dan turut andil dalam proses penyiaran, misalnya. Mengapa? Karena jurusan atau program studi Komunikasi Penyiaran Islam sudah setara dengan jurusan Ilmu Komunikasi di universitas umum. Kurikulum jurusan KPI memasukkan kuliah wajib sebagaimana yang telah disepakati dalam ASPIKOM (Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi). Mata kuliah Komunikasi Massa merupakan salah satu daftar yang wajib di jurusan atau p...