Skip to main content

Pra-Pasca Kemerdekaan, Masyarakat Haus Berita

Kampus, WARNA — Kuliah perdana mata kuliah Jurnalistik, Primi Rohimi selaku dosen menekankan bahwa jurnalisme di Indonesia  masyarakat publik haus informasi politik pada sebelum dan pasca kemerdekaan Indonesia. Hal tersebut ia suguhkan dalam topik Sejarah Jurnalistik saat mengajar di kelas KPI A semester lima pada Kamis (6/9/2018).

Sebagai pembuka, Primi mengingatkan tentang sejarah jurnalistik tidak lepas dari penemuan  alat komunikasi, yakni Movabel Printing Machine (mesin cetak) oleh Johannes Guttenberg sekitar tahun 1456. Mesin tersebut hanya mencetak kitab Injil di wilayah Eropa dan Jerman.

Kemudian dilanjutkan, awal mula jurnalistik hadir di Indonesia karena dibawa oleh para penjajah pada masa penjajahan di Indonesia.  Saat itu, masyarakat Indonesia  memang sangat haus akan polemik politik di negaranya. Namun isi beritanya hanya mengenai hal-hal positif dari negara penjajah, misalnya tentang kejayaan mereka dalam menjajah Indonesia.

"Hal itu karena jurnalistik masih dibatasi dan di awasi oleh penjajah," jelas Primi pada kuliah tambahan yang hanya diberikan pada mahasiswa berbobot 24 SKS.

Berbeda pada pasca kemerdekaan, semua orang bisa menjadi seorang Jurnalis. Primi mengungkapkan, karena kebebasan inilah orang-orang lebih leluasa untuk menyebarkan berita yang sembarangan, berita gosip, bahkan sampai muncul koran kuning pada masa Orde Baru. Koran ini lahir karena sensor kegiatan politik negara yang sudah ada klarifikasi (cover both side) ditetapkan dalam Undang-undang nomer 22 tahun 1966 (kini sudah dihapuskan).

"Koran kuning memuat berita sensasional, kriminalitas, dan seksualitas dengan euforism atau dilebih-lebihkan, hal ini ditujukan agar laris di pasaran," kata Primi kepada 15 mahasiswa yang hadir di ruang E3.

Sementara di awal reformasi, jurnalistik mengalami kemajuan yang pesat. Hal tersebut dikarenakan kebutuhan masyarakat mengonsumsi berita mengenai pemerintahan. Primi meninjau dari sisi ekonomi berdasarkan teori Suplay-Demand; dimana ada penawaran, maka akan ada permintaan. Maka pada awal reformasi ini, koran terjual habis. Namun lama-kelamaan, masyarakat Indonesia akan jenuh dengan berita politik yang disuguhkan.

Sebagai penutup, Primi menegaskan bahwa Jurnalistik negara Indonesia sekarang sudah mempunyai lembaga yang melindungi jurnalis, berbeda pada masa sebelumnya.

"Jurnalistik negara Indonesia kita saat ini, sudah memiliki kode etik jurnalisme dan undang-undang lainnya," tuturnya. (Firda)

NIM: 1640210006

Comments

Popular posts from this blog

Peluang dan Tantangan Dakwah di Era Globalisasi dan Informasi

Dunia semakin tanpa sekat. Informasi dengan mudahnya tersebar melalui berbagai media. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan transformasi informasi yang sangat pesat memasuki era globalisasi dan informasi. Kemajuan tersebut bagaikan pedang bermata dua, terutama dalam hal berdakwah yakni menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran untuk menuju agama yang rahmatan lil alamin. Arus globalisasi memang tidak bisa ditahan, seperti yang kita lihat kehadiran teknologi yang telah bersahabat di Indonesia, seperti berbagai macam stasiun televisi dan media sosial. Televisi telah menguasai sebagian kehidupan masyarakat Indonesia. Peradaban informasi yang mendominasi dunia modern dalam beberapa dekade terakhir, nampaknya membawa dampak global dari berbagai sektor kehidupan manusia. Hampir semua dapat dihubungkan baik langsung maupun tidak dengan agama, terutama peluang sekaligus tantangan dakwah. Hadirnya kecanggihan teknologi, dakwah menjadi lebih mudah, tak terbatas ruang dan...

Pengertian, Ciri-Ciri, Jenis, Struktur Anatomi, dan Sistem Penulisan Feature

Catatan perkuliahan Teknik Menulis Feature dan Berita pada pertemuan kedua (27/2/19), Dosen pengampu: Primi Rohimi, S. Sos, MSI. Pengertian Feature Apa sih tulisan Feature ? Menurut Asep Syamsul M. R, Feature adalah karangan khas yang menuturkan fakta, peristiwa atau proses disertai penjelasan riwayat terjadinya. Dari pengertian Asep,kita dapat memahami bahwa feature merupakan tulisan yang unik namun tetap berdasarkan fakta atau kenyataan dari peristiwa maupun proses dan menjelaskan kronologi suatu kejadian tersebut. Berarti sama dengan berita, dong ?  Sejatinya, memang tulisan Feature  masuk dalam jenis – jenis berita yaitu jenis berita ringan atau soft news. Namun ada cirri-ciri yang membedakan dalam penulisannya. Sebelum itu, mari kita simak lagi pengertian Feature dari Jim Atkins Jr., yaitu liputan mengenai kejadian yang dapat menyentuh perasaan ataupun menambah pengetahuan audiens melalui penjelasan rinci dan mendalam, tidak terkait aktualitas . Nah kan, jadi Feature ...

KPI, KHALAYAK DAN URGENSI (HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI MASSA DAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM BESERTA URGENSINYA)

“Jadi anak KPI, ya harus update!” Masih melekat dalam benak saya tentang apa yang diucapkan oleh salah satu dosen di kelas. Memang benar, menjadi seorang mahasiswa KPI (Komunikasi Penyiaran Islam) harus memiliki pengetahuan luas tentang hal-hal baru yang ada di sekitarnya. Seperti halnya berita-berita aktual politik, agama, ekonomi, budaya dan sebagainya. Apalagi di era revolusi industri 4.0. Teknologi seakan menjadi jantung kehidupan sehari-hari. Tuntutan itu tak lebih untuk memaksimalkan tingkat kepekaan mahasiswa. Berfikir kritis, mampu menganalisis reaksi khalayak, dan turut andil dalam proses penyiaran, misalnya. Mengapa? Karena jurusan atau program studi Komunikasi Penyiaran Islam sudah setara dengan jurusan Ilmu Komunikasi di universitas umum. Kurikulum jurusan KPI memasukkan kuliah wajib sebagaimana yang telah disepakati dalam ASPIKOM (Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi). Mata kuliah Komunikasi Massa merupakan salah satu daftar yang wajib di jurusan atau p...