Budaya Populer; Media Sosial dan Komunikasi Interpersonal (Review Jurnal Influence of Social Media in Interpersonal Communication )
Identitas Jurnal
Jurnal :
International Journal Of Scientific Progress And Research (IJSPR)
Judul Jurnal :
Influence of Social Media in Interpersonal Communication (Pengaruh Media Sosial dalam
Komunikasi Interpersonal)
Penulis :
Dr.R.R. Subramanian
(Konsultan Senior & Profesor
Manajemen)
Volume&halaman : Issue 109, Volume 38, Number 02.
ISSN : 2349-4689
Tahun : 2017
Riviewer : Shoma Noor Firda
Inayah
Hasil Review :
Abstrak
Penulis jurnal, Subramanian menggunakan
istilah synopsis pada bagian abstrak jurnal. Namun bagian ini sesuai
dengan ketentuan abstrak pada umumnya. Memuat ulasan atau gambaran singkat yang
melatar belakangi masalah dari isi jurnal. Ditulis beberapa pengaruh media
sosial dalam komunikasi interpersonal di era digitalisasi. Jurnal ini mempunyai
tiga kata kunci, yakni medsos dan komunikasi interpersonal, gaya hidup yang
berubah dan media komunikasi, kurangnya waktu serta dampak terhadap metode
komunikasi.
Point
of View dan Standing Opinion
Bagian pendahuluan, penulis jurnal
mengutarakan bahwa lebih dari sepuluh tahun, masyarakat sudah kecanduan dengan media sosial
dan komunikasi digital yang membuat hidup serba instan tetapi kadang rumit.
Subramanian juga menuliskan tiga masalah yang muncul karena permainan media
sosial dalam gaya berkomunikasi manusia. Hal tersebut sesuai dengan kondisi di
dunia pada umumnya, termasuk di Indonesia saat ini.
Subramanian dalam proses pengumpulan data
menggunakan metode literatur-literatur yang cukup tersedia di buku, majalah dan
internet. Itulah sebabnya ia tidak menggunakan kuesioner dalam penelitiannya.
Subramanian menggunakan penelitian dokumentasi
yang bersumber dari referensi, tanpa melakukan interview pada pihak tertentu.
Sedangkan pada tujuan jurnal, meliputi ulasan perkembangan medsos dalam
berkomunikasi, menganalisis kritis mengenai pertumbuhan media dalam komunikasi
interpersonal, pengaruh ponsel dan dampaknya.
Secara garis besar, Subramanian mengulas beberapa hal mengenai pengaruh media sosial (medsos) terhadap komunikasi hubungan antar pribadi. Banyak pengaruh positif maupun negatif yang disampaikan melalui tema ini. Dimulai dengan kebangkitan visualisasi di sosial media, sebagai contoh ditandai dengan cyber bullying. Dalam hal ini, dampak cyber bullying mirip seperti kasus bullying dalam dunia nyata. Perbedaannya hanya terletak pada “lebih”, cyber bullying lebih berbahaya, lebih sulit disembuhkan, lebih menutup diri dan “lebih-lebih” yang lainya. Karena cyber bullying berada pada medan online yang tak bersekat.
Kemudian Subramanian mengulas kearifan
yang diharuskan dalam komunikasi media, seperti bijak dalam menggunakan
internet. Karena di dalamnya terdapat sisi-sisi positif maupun negatif.
Terkadang orang tidak bisa mengontrol diri bahkan bisa menjadi penyakit mental,
yaitu kecanduan teknologi. Kalau kita lihat di Indonesia, teknologi bisa saja
menjadi jantung kehidupan sehari-hari. Tergantung pada pemakainya, media sosial
ialah ibarat sebuah pisau yang memiliki dua sisi tajam.
Bahkan, di media sosial mempunyai konsekuensi
buruk. Salah satunya yaitu kurangnya privasi, sekalipun dengan pengaturan yang
ketat. Misalnya jika kita mengubah profil instagram,dan mem private akun
pribadi. Maka pengaturan privasi tersebut masih bisa terlacak oleh internet,
karena kita sign in dengan alamat email. Email tersebut masih bisa
terlacak dari google atau lainnya. Padahal email termasuk hal privasi
yang tidak seharusnya di transparasi. Nyatanya, memang harus siap dengan
konsekuensi buruk yang ditimbulkan oleh media sosial.
Namun terlepas dari hal tersebut, media
sosial juga memiliki pengaruh positif. Seperti halnya berkomunikasi dengan
jarak jauh, seperti yang biasa kita lakukan. Kita bisa mendapat kenalan dari
berbagai penjuru dunia berkat media sosial. Semuanya serba instan dan cepat.
Subramanian jika penelitiannya di tahun sekarang, mungkin ia akan mengilustrasikan
bagaimana “lebih” instannya tahun ini. Berbagai fitur dari aplikasi whatsapp,
instagram, facebook telah diperbarui untuk mengembangkan gaya
berkomunikasi, contoh sederhanannya adalah fitur videocall.
Jika sudah seperti itu maka cara
berkomunikasi juga akan berubah. Maka tak akan ada lagi filter terhadap cara
kita berkomunikasi. Dijelaskan lebih detail oleh Subramanian yakni orang-orang
lebih cenderung berkomunikasi melalui jejaring sosial. Hal itu akan menjadi
ketergantungan pada medsos.
Subramanian mengibaratkan sebagai pedang yang mempunyai dua mata, positif dan negatif. Cara penggunaannya pun yang semakin bertingkat. Maksudnya interaksi media sosial lebih cenderung online daripada offline. Bahkan dengan keluarga terdekatpun. Fenomena lucu yang kerap terjadi misalnya, seorang kakak beradik yang berjarak hanya batas tembok kamar, lebih memilih berkomunikasi melalui aplikasi whatsapp dari pada percakapan langsung. Subramanian telah menggambarkan dalam jurnalnya secara tidak langsung ini merupakan budaya populer masa kini dan berhubungan dengan komunikasi.
Subramanian melengkapinya dengan hubungan
pemasaran dan media sosial. Itu juga terdapat dua sisi positif dan negatifnya,
seperti orang-orang dunia maya lebih bisa menanggapi pemasarannya secara cepat.
Ini menjadi suatu keuntungan karena mendapatkan penawaran umpan balik yang
sangat cepat. Bernilai positif pula bagi perusahaan kecil namun pemasarannya
menjadi besar atau meluas tak terbatas. Seperti pengusaha yang belum mempunyai
toko berupa bangunan, akan memiliki toko online yang mampu melejitkan
bisnisnya hingga ke penjuru dunia melalui media sosial pemasaran, seperti shoope,
bukalapak, tokopedia dan sebagainya.
Termasuk juga media sosial membantu
melejitkan sebuah bisnis dengan sistem beragam. Termasuk bisnis
memopularitaskan situs sosial dengan menajdi bloger, pembuat konten dan
sebagainya. Hingga kalau dinilai sekarang, media sosial seperti facebook,
instagram, twitter dan lain-lain menghapus kendala komunikasi. Nyatanya
hingga sekarang mampu mempersatukan sebuah program besar untuk mencapai apa
yang dituju.
Pada
bagian penutup, Subramanian menyimpulkan bahwa jejaring sosial sudah tidak
mampu dibatasi. Ia juga menegaskan dunia digital telah mengubah cara manusia
berinteraksi, ditampakkan dengan kurangnya bertatap muka langsung. Orang-orang,
pemuda khususnya lebih memilih mengisolasi diri mereka dalam dunia gadgetnya
daripada berkomunikasi langsung dengan sosok nyata. Namun media sosial juga
memberikan dampak positif, diantaranya melejitkan usaha bisnis dan lainnya.
Tapi Subramanian mengutarakan bahwa saat ini telah masuk dalam kondisi genting
dimana seseorang kehilangan kearifan dalam berkomunikasi.
Jurnal ini tak seperti kebanyakan jurnal
pada umumnya. Isinya dilengkapi dengan berbagai gambar atau ilustrasi yang
mendukung pembahasan jurnal. Selain itu, pembahasan yang terkandung dalam
jurnal ini mencakup secara keseluruhan, tidak condong ke satu daerah. Pembahasan
menggambarkan kondisi jaman digital secara real dalam praktik kehidupan
sehari-hari, misalnya kecanduan teknologi, cara berkomunikasi yang berubah dan
lain sebagainya. Sehingga hal ini bisa menjadi rujukan dasar bagi para peneliti
sesudahnya.
Referensi yang digunakan dalam jurnal
berjudul Influence Of Social Media In Interpersonal Communication termasuk
kategori banyak, yaitu sejumlah 25 referensi media cetak (buku, majalah, jurnal
dan sebagainya) dan menggunakan referensi web sejumlah lima. Sehingga
Subramanian tidak perlu menambahkan angket atau survei kuesioner tambahan.
Meskipun jurnalnya terbitan tahun 2017,
namun masih relevan digunakan pada tahun sekarang, 2018. Karena media terus
berkembang pesat dan jurnal ini sebagai pondasi rujukan bahwa cara komunikasi
juga akan berubah seiring melesatnya berbagai teknologi.
Terlepas dari hal tersebut, Subramanian
sebagai penulis jurnal merupakan Konsultan Senior dan Profesor Manajemen yang
tinggal di Thninketh Labs, Chennai, India. Sudah pernah menerbitkan jurnal
sebanyak 88, salah satunya di International Journal Of Scientific Progress And
Research (IJSPR) dan mendapatkan penghargaan sebanyak 18. (Ada di lampiran
jurnal halaman muka) Sehingga jurnal ini menjadi sumber acuan terpercaya bagi peneliti,
khususnya peneliti tentang komunikasi, media massa, dan era digital.
Akan tetapi, ada suatu kejanggalan dari
jurnal tersebut, yaitu kurang ada keterkaitan dengan pembahasan dan kesimpula.
Karena dimasukkannya data-data baru dalam kesimpulan. Dan bagian kesimpulan
dijadikan satu dengan analisisnya, sehingga tidak bisa membedakan antara
analisis dan kesimpulan.
Selain itu, pada bagian pembahasan, kurang
menyebutkan contoh-contoh yang mendukung dari pengaruh media sosial itu
sendiri. Walaupun telah menggunakan berbagai referensi, apabila ditambahkan
contoh mungkin akan lebih memahamkan pembaca. Meskipun demikian, hal itu tidak
mengurangi sedikitpun kualitas jurnal ini.
(Firda)
Comments
Post a Comment