Hampir segala aktivitas manusia kini berhubungan dengan internet. Dengan internet, kita dimanjakan oleh berbagai layanan yang mudah dan cepat. Utamanya dalam hal berinteraksi sosial, seperti e-mail, facebook, whatsapp, messenger dan sebagainya. Obrolan secara online sekaligus data-data di dalamnya selain akan direkam pada perangkat masing-masing pengguna. Eksistensi diri juga telah didorong melalui jaringan internet. Namun sayangnya sedikit yang menyadari bahwa semua itu akan meninggalkan jejak di ruang siber.
Ketika berselancar di ruang siber, segala aktivitas kita akan terekam sebagai jejak riwayat. Mulai dari catatan unggahan akun pribadi di media sosial, video-video yang pernah ditonton, kata kunci yang pernah diketik melalui Google, penelusuran web yang pernah dikunjungi, bahkan titik lokasi kemanapun kita pergi dicatat oleh GPS ponsel. Hal tersebut menjadi sebuah jejak digital yang yang tak terbantahkan yang sering diabaikan oleh para pengguna.
Jejak digital menurut Sandi S. Varnado dalam jurnalnya berjudul “Your Digital Footprint Left Behind at Death: An Illustration of Technology Leaving the Law Behind” mendeskripsikan bahwa jejak digital adalah kumpulan jejak dari semua data digital, baik dokumen maupun akun digital. Jejak digital bisa tersedia baik bagi data digital yang disimpan di komputer maupun yang disimpan secara online. Sebelumnya kita perlu tahu, bahwa di Indonesia pengguna media sosial sudah mencapai 150 juta atau 56% dari total populasi. Jumlah tersebut naik 20% dari survei sebelumnya. Data tersebut berasal dari hasil riset We Are Sosial Hootsuite yang dirilis Januari 2019.
Jejak digital lebih banyak dihasilkan oleh pengguna smartphone. Dilansir dari hinet.co.id., penggunaan smartphone jauh lebih berkembang sampai 2,32 hektar milyar pengguna di seluruh dunia. Pengguna smartphone bahkan banyak yang tidak menyadari kegiatannya selalu dipantau oleh google. Ia telah memberikan segudang manfaat untuk para pengguna dengan berbagai produk maupun platformnya. Kini google seakan sudah menjelma raksasa jejaring internet dengan akses instan dan mudah. Namun sudah amankah data-data privasi kita yang telah diberikan sebagai persyaratan google dan situs lainnya?
Pengamat teknologi informatika Vaksincom Alfons Tanujaya berpendapat bahwa jejak digital seseorang akan bertambah banyak apabila ia aktif menggunakan internet. Lalu bagaimana dengan kita yang setiap hari tak bisa lepas dengan jaringan internet? Apapun yang sudah diunggah, maka dapat dengan mudah diduplikasi, di re-post dan disebarluaskan oleh orang lain. Ketika itu sudah menjadi viral, maka server yang menyimpan unggahan kita akan bertambah bahkan sampai ratusan hingga ribuan server.
Itulah mengapa jejak digital sangat kejam. Ia bersifat permanen dan mustahil dapat dihapus, karena internet bersifat cepat terutama dalam penyebaran suatu tema. Di sisi lain, jejak digital ternyata mampu menepis berita palsu atau hoax yang menyebar pesat di internet. Seperti isu yang sempat menjadi trending topik dengan tagar #JusticeforAudrey di twitter pada awal April 2019, namun ternyata hoax. Isu tersebut berisi tentang gadis SMP yang dikeroyok oleh 12 kakak tingkatnya. Bahkan sempat terdapat petisi online yang telah ditandatangani oleh hampir tiga juta warganet.
Rekam jejak digital dapat menguak fakta seorang Audrey, yang gemar mengunggah postingan sarkas, kotor bahkan tidak layak untuk dilontarkan oleh pelajar seumurannya. Terkuaknya jejak digital Audrey, memunculkan tagar #AudreyJugaBersalah untuk menepiskan isu palsu tersebut, meski masih menuai pro dan kontra di dalamnya.
Permasalahan itu pun mengingatkan kita pada tahun 1993, saat Peter Steiner membuat karya fenomenal yang diterbitkan oleh The New Yorker. Kartun itu berisi dua ekor anjing bermain internet via komputer. Steiner membubuhkan tulisan: “On the internet, nobody knows you’re a dog.” Dari kartun tersebut kita bisa memahami bahwa terkadang di dunia maya tidak benar adanya seperti di dunia nyata. Karena itu diperlukan sikap bijak dan berhati-hati dalam menjalin hubungan di internet.
Menghadapi jejak digital yang tak bisa dihindari, alangkah baiknya bila kita berfikir sejenak sebelum memposting di media sosial. Memastikan apa yang kita sebarkan hanya hal-hal yang positif dan bermanfaat. Agar jejak digital kita terekam dengan positif.
Jejak digital negatif atau hal-hal memalukan dan bersifat alay yang kita temukan beberapa tahun lalu di akun media sosial tetap bisa dihapus. Menurut Yudhi Kukuh, Technical Consultant PT Prosperita ESET Indonesia, kuncinya ada di gmail dan handphone atau smartphone yang digunakan penggunanya.Menyapu aktivitas riwayat yang tidak terlalu penting di Google Account yang dimiliki juga perlu untuk keamanan jejak kita di ruang siber. Juga menjaga e-mail dan jangan pernah membagikan password akun kita, karena ia menjadi kunci jejak digital. Ketika e-mail sukses dibobol, maka segala tindakan penggunanya bisa mudah diketahui. Membersihkan jejak digital berarti mengamankan e-mail yang digunakan untuk mendaftar di layanan internet.
Demikian, semoga bermanfaat!! Mohon saran dan masukannya!:)
Firda Shoma
Comments
Post a Comment